Prabowo Kagum Siswa Sekolah Rakyat Orasi 4 Bahasa

Prabowo Kagum Siswa Sekolah Rakyat Orasi 4 Bahasa

epictoto — Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan kekagumannya terhadap kemampuan siswa-siswa Sekolah Rakyat yang berorasi dalam berbagai bahasa asing. Peristiwa ini terjadi dalam acara peresmian 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi, yang berlangsung di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Senin (12/1/2025).

Kekaguman Atas Kemampuan Bahasa

Menyaksikan sejumlah siswa berpidato dengan lancar dalam empat bahasa, Presiden Prabowo menyatakan kekagumannya. “Luar biasa mereka itu. Yang (pidato) bahasa Inggris luar biasa. Karena saya besar di luar negeri, kalau saya bagus bahasa Inggrisnya, wajar. Tapi anak ini, saya kagum juga sama dia tadi,” ujarnya.

Rasa kagum itu bahkan mendorongnya untuk mengusulkan agar siswa-siswa berbakat tersebut mendapat kesempatan belajar ke luar negeri. “Mungkin, bagusnya kita kirim juga ke luar negeri. Kira-kira bagaimana?” usul Prabowo yang langsung disambut tepuk tangan meriah para hadirin.

Prestasi Membanggakan dalam Waktu Singkat

Tak hanya kemampuan berbahasa, Prabowo juga terkesan dengan pencapaian akademik para siswa. Ia mencatat bahwa meski program Sekolah Rakyat baru berjalan efektif sekitar enam bulan, sudah ada siswa yang meraih prestasi tingkat olimpiade.

“Saya kagum, masa baru enam bulan tadi saya lihat, sudah ada yang juara olimpiade. Juara Olimpiade Matematika. Luar biasa,” tutur Presiden.

Misi Sekolah Rakyat: Memutus Mata Rantai Kemiskinan

Sekolah Rakyat merupakan inisiatif negara yang didedikasikan untuk memutus siklus kemiskinan ekstrem melalui penyediaan pendidikan berasrama secara gratis. Program ini menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, khususnya yang masuk dalam kelompok desil 1 dan 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Para siswa yang tampil dan menarik perhatian Presiden berasal dari latar belakang keluarga yang rentan secara ekonomi. Orang tua mereka umumnya bekerja di sektor informal dengan penghasilan yang tidak tetap.

Profil Siswa Berprestasi

Salah satunya adalah M. Kiendra Lian Damarta, yang membawakan orasi dalam bahasa Inggris. Ia adalah anak dari seorang pekerja ojol dengan penghasilan yang fluktuatif. Keluarganya bahkan tinggal menumpang di rumah kerabat. Keberadaan Sekolah Rakyat membuka jalan bagi Kiendra untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah atas.

Contoh lainnya adalah Muhammad Nazril Kurniawan, anak tunggal dari ayah yang bekerja sebagai cleaning service dengan penghasilan tidak tetap, serta Nazila Barqiah Harum yang berasal dari keluarga pedagang kecil dengan pendapatan tidak menentu. Mereka adalah representasi nyata dari ribuan anak lainnya yang mendapatkan kesempatan kedua untuk mengubah masa depan melalui pendidikan berkualitas.

Peresmian 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi ini menandai komitmen pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, sekaligus menjadi bukti awal bahwa bakat dan potensi mereka dapat bersinar ketika diberikan kesempatan yang setara.